Sunday, October 13, 2019


Batik Day



Tau nggak si gengs, kemarin 2 Oktober kita mengawali bulan baru dengan memperingati Hari Batik se-Indonesia. Yap, tentu saja batik berasal dari negri kita tercinta ini. Batik merupakan hasil  karya Negri kita yang menembus hingga manca Negara. Batik memperoleh pengakuan dunia pada tahun 2009 dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Batik juga merupakan warisan budaya kita, dunia tak benda atau intangible cultural heritage. Menurut UNESCO, batik dinilai sebagai ikon budaya yang memiliki keunikan dan filosofi mendalam, serta mencakup siklus kehidupan manusia. Untuk memperingatinya, banyak lembaga yang menggunakan batik, baik saat bekerja ataupun sekolah. Tentunya merupakan suatu kebanggaan untuk kita karna memiliki satu warisan budaya yang luar biasa.

Tentang Batik




Awalnya batik diciptakan memakai kain berwarna putih yang terbuat dari bahan kapas (kain mori). Seiring perubahan jaman proses membuat kain batik bisa juga memakai katun, sutera, rayon, poliester, serta bahan sintetis yang lain. Macam Motif batik itu sendiri diciptakan memakai cairan lilin dengan media alat yakni canting untuk motif halus, serta kuas untuk motif batik tulis yang memiliki ukuran besar. Setelah itu cairan lilin itu akan meresap dengan baik ke dalam serat kain. Kain yang telah usai dilukis memakai canting tadi lalu dicelup untuk pewarnaan. (JesicaIXB/PaulinaIXA)



Wednesday, October 9, 2019


Mendur bersaudara, tokoh dibalik foto proklamasi
          Apa kalian tahu tentang foto saat Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan RI untuk pertama kalinya? Tentu tidak asing lagi buat kalian, nah seperti pada judul yang telah kalian baca kita akan membahas seorang sosok baru nih
Description: Hasil gambar untuk foto mendur bersaudara           





            Tentunya kalian sangat asing dengan wajah tersebut, tapi kalian tidak akan asing lagi dengan  cerita dan perjuangannya
            Simak baik baik yaaa
Description: hasil foto mendur bersaudara.jpgNah, jadi mereka berdua adalah Mendur bersaudara, seperti yang sudah kalian baca juga dijudul. Mereka adalah, Alex dan Frans.
            Foto proklamasi merupakan salah satu saksi bisu dalam sejarah yang membuktikan merdekanya negeri kita ini. Foto ini diambil oleh Mendur bersaudara, mengambil foto tersebut tanpa intruksi .
            Awalnya Frans hanya tak sengaja mendengar kabar dari harian Asia Raya. Kakaknya, Alex yang berprofesi sebagai fotografer kantor berita jepang waktu itu juga mendengar hal yang serupa.
Bergegaslah kedua mendur bersaudara itu ke kediaman soekarno di jalan Pegangsaan Timur No 56, cikini, Jakarta dengan membawa kamera masing masing. Dengan mengendap  endap, akhirnya kedua Mendur bersaudara itu berhasil sampai di lokasi tepat pukul 05.00 pagi. Dan hanya mereka fotografer yang hadir di hari paling penting bagi bangsa kita.
            Saat mereka berhasil mengabadikan foto proklamasi tersebut, selepas upacara mereka ditangkap oleh tentara Jepang.
            Alex ditangkap, dan kameranya disita serta hasil fotonya dibakar. Sedangkan Frans berkilah, ia mengaku negatif filmnya telah dirampas Barisan Pelopor padahal telah dikubur dalam tanah. Tentara Jepang pun berhasil ia kelabuhi.
Setelah merasa aman, keduanya lalu menggali tanah tempat negatif film dikubur. kemudian, film itu dicetak. Butuh keberanian dan mental baja.
 Mendur bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, dan melompati pagar hingga akhirnya menemukan lab foto. Sebab jika tertangkap Jepang, Mendur bersaudara bisa dihukum mati.
Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan.
Mendur bersaudara lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir pada 1907, adiknya Frans Mendur lahir tahun 1913. Saat itu nama Mendur bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka dicari banyak media-media asing.

Untuk mengenang aksi berani mereka, Mendur bersaudara, keluarga besar Mendur mendirikan sebuah monumen yang disebut "Tugu Pers Mendur".
Tugu ini berupa patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu.
Tugu Pers Mendur didirikan di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, di tanah kelahiran mereka. Di dalam rumah itu terdapat 113 foto karya Mendur bersaudara yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013.
            Nah, udah tau kan? Memang nggak main-main sikap beraninya. Tentunya sangat menarik dan menambah minat kita untuk lebih tau tentang sejarah lebih dalam juga sosok sosok dibaliknya. Dan ini yang kami sajikan untuk kalian baca dan kalian ketahui.
Sepatutnya juga kita harus menghargai dan, melestarikan juga ikut bangga atas aksi hebat yang mereka lakukan.
Jadi, banggalah dengan negaramu, dengan pahlawanmu, dan banggalah karna kamu bagian dari Indonesia. (JessicaIXBGlendaIXA)


RENUNGAN TANAH AIR

            Helloo Gaesss.... Tahu gak sih  bulan Agustus itu ada kegiatan Renungan tanah air. Iya benar 16 Agustus yang lalu, kami mengikuti renungan tanah air yang diadakan di sekolah kami. Lebih tepatnya, di depan Taman Desenzano.
            Kami mengikuti renungan tanah air dalam rangka menyambut hari kemerdekaan yaitu seperti yang kita semua tau, 17 Agustus.
            Dalam acara ini, kami diajak untuk kembali merenungkan perjuangan para pahlawan dan pejuang yang telah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Upacara berjalan dengan khidmat dan penuh penghayatan
            Kami menyanyikan berbagai macam lagu nasional untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan, ada juga anak anak yang dimintai untuk menceritakan kembali awal perjuangan rakyat Indonesia hingga Indonesia  merdeka. Diiringi rekaman suara Presiden Soekarno yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia untuk pertama kali.
            Tak lupa juga, kami juga mendoakan para pahlawan yang telah gugur untuk merebut dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
            Untuk kembali menghormati bangsa, kami melanjutkannya dengan acara  penciuman bendera, mulai dari anak anak dari TK, SD, SMP, para bapak ibu guru, para suster, dan seluruh karyawan yang ada di kampus Santo Bernardus.
            Kami bersyukur atas 74 Tahun merdekanya bangsa Indonesia, dengan doa dan rasa syukur yang tak habis kami panjatkan untuk para pahlawan dan pejuang.
            Sebagai bentuk ucapan syukur atas 74 tahun merdekanya Indonesia diwakili suster kepala, nasi tumpeng dipotong sebagai ucapan syukur.
            Kami juga menikmati nasi tumpeng yang telah dibagikan untuk para murid dan makan bersama.
            Sederhana tapi penuh makna.
Inilah bentuk rasa syukur kami, dan rasa cinta kami terhadap negara ini. MERDEKAAA!!!. (JesicaIXB)
           

Sunday, August 11, 2019

PENGALAMAN LIVE-IN SAYA - Ivana Gabriella

Pada kelas 7 kemarin, angkatan kami melaksanakan Live-In di Desa Bulakrejo, Ngrambe.
Saya mendapatkan kelompok yang berisi 4 orang, yaitu : Kakak Pendamping, dan 3 orang peserta. Berikut adalah pengalaman Live-In saya.


1. Jum'at, 29 Maret 2019
         
     
            Hari Jum'at, kami berkumpul di aula bawah sekolah sekitar pukul 07:30 dengan sudah membawa perlengkapan selama Live-In. Di sana, kami diberi beberapa pengarahan oleh guru, lalu berangkat ke tempat Live-In sesuai kendaraan yang sudah ditentukan. Sesampainya di sana, kami berkumpul di Gereja Hati Kudus untuk bertemu induk semang kami masing-masing. Setelah bertemu, kami dengan kelompok kami masing-masing bersama dengan induk semang pergi ke rumah tempat kami tinggal. Kami sampai di rumah induk semang sekitar pukul 11:30. Di sana, kami disambut dengan induk semang kami, Bu Marmi. Kami diajak untuk makan siang dengan makanan yang sudah disediakan. Di sana, semua masakannya enak, Bu Marmi memang pintar dalam hal memasak. Makan siang kami disuguhi dengan sayur sop, ayam suwir, telur dadar, pepes tongkol, perkedel, nasi, dan sambal yang enak sekali. Seketika, banyanganku tentang bagaimana menderitanya hidup di desa hilang. Sesudah selsai makan, kami mencuci piring, lalu membantu Bu Marmi menyapu halaman. setelahnya, kami disuruh menonton TV. Pukul 15:00, kami disuruh mandi dan diajak ke gereja untuk mengikuti Jalan Salib. Di sana, kami bertemu dengan teman-teman kami lainnya. Sesudah itu, kami pulang pukul 17:30 dan dilanjutkan dengan mengobrol bersama Bu Marmi. Disitu, kami banyak mengerti tentang kehidupan di desa dan banyak lagi. Sampai akhirnya, jam sudah pukul 21:00 dan kami memutuskan untuk ke kamar masing-masing. Tapi, saya baru bisa tidur pukul 00:30.



2. Sabtu, 30 Maret 2019



          Pada hari Sabtu, kami bangun pukul 05:00. setelah bangun, kami membereskan kamar, lalu bertemu Bu Marmi, berniat membantu. Tetapi kamu disuruh menonton TV saja oleh Bu Marmi. Setelahnya, pukul 06:30, kami ikut bapak ke sawah untuk membawakan makanan para petani, dan kami langsung disuruh pulang. Pukul 07:30 kami diajak sarapan oleh Bu Marmi. Setelah itu, saya memutuskan untuk mandi, lalu menonton TV, karena Bu Marmi sedang mengajar di sekolah, dan bapak berkeliling desa. Pukul 11:00 kami keluar rumah, karena banyak teman-teman yang main ke rumah tempat kami tinggal. Pada pukul 13:00, kami di ajak Bu Marmi pergi ke kebun teh menggunakan mobil salah satu warga, tetapi karena dipertengahan jalan hujan, kami pergi ke tempat wisata yang tidak hujan. Di sana, kami bermain sekaligus memberi surprise kepada salah satu teman sekelompok kamu, Yosephine, yang apada saat itu berulang tahun. Kami menyirami dia dengan air dan melempari tepung, benar-benar seru. Sesudahnya, kami pergi ke sungai untuk bermain air, sembari Bu Marmi menghadiri pesta pernikahan salah satu warga. Sesudahnya, kami pulang, makan kue bersam, lalu mandi dan bersiap-siap ke gereja. Pukul 18:00 kami pergi ke gereja untuk beribadah. Setelah itu, kami ikut induk semang arisan, tapi kami main bersama teman kami. setelah itu, kami pulang, dan tidur.




3. Minggu, 31 Maret 2019





            Kami bangun pukul 06.00, lalu sarapan bersama. Setelah itu, kami mandi dan packing, lalu pukul 09:00 kami ke gereja dan pulang. 

Wednesday, August 7, 2019



Ini Sekolah Kami
SMP SANTO BERNARDUS
Image result for smpk santo bernardus
            Bangunannya masih kokoh berdiri. Megah besar berisi cerita.Disinilah kami dididik, dikembangkan secara potensi dan fisik. Penuh memori dan pengalaman.
          Disinilah kami menginjakkan kaki setiap harinya, bertemu teman, bapak ibu guru, dan para karyawan yang ada dan melayani kami setulus hati.
          Berbagi cerita, kisah kejadian setiap harinya. Jangan tanya kami bosan atau tidak, ini rumah kami. Tempat kami mencari semua yang kami butuhkan.
          Mulai dari kegiatan, ekstrakurikuler, tak ada yang membosankan untuk kami. Mendukung tiap potensi dan bakat kita dengan segenap hati. Memberikan pelayanan terbaik untuk kami, dan menjadi pendamping yang setia untuk kami.
          Kami dididik untuk menjadi karakter pemimpin dan berjiwa sosial, kami dididik untuk menjadi pribadi yang aktif dan bertanggung jawab.
          Kami dapatkan semua itu dengan tekun dan sepenuh hati.
          Kita seperti keluarga, seperti saudara, berbagi kisah cerita bersama. Tak luput dari kekurangan masing masing dari kami, kami selalu punya cara untuk melengkapi.
          Keluarga, kata yang tepat untuk menggambarkan kami. Dan rumah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah kami ini.
          Suasana, keceriaan, dan orang orangnya yang mengundang rasa rindu dari kami. (Jesie)       


Wednesday, July 31, 2019

Santo Alfonsus Maria de Liguori 

Tanggal 1 Agustus adalah hari perayaan Santo Alfonsus Maria de Liguori. Tahu gak sih siapa santo ini?untuk lebih jelasnya yuk mari dibaca riwayat hidup santo ini.
 Alfonsus dilahirkan dalam lingkungan keluarga bangsawan di Naples Italia pada tahun 1696. Ia adalah seorang anak ajaib yang memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa. Ia meraih gelar doktor ilmu hukum dari Universitas Naples pada usia 16 tahun.  Pada usia 21 tahun Alfonsus sudah memiliki praktek hukum sendiri dan menjadi salah satu pengacara terkemuka di Naples. Meskipun begitu ia tidak pernah menghadiri pengadilan tanpa menghadiri Misa dipagi hari. 
Suatu kesalahan yang dibuatnya di pengadilan membuat hidup Alfonsus berubah. Ia merasakan gejolak panggilan religius dalam hatinya untuk meninggalkan dunia dan melayani Yesus. Alfonsus menjadi yakin dengan apa yang telah lama ada dalam pikirannya: ia ingin menjadi seorang imam. Ayahnya berusaha membujuk Alfonsus agar ia mengurungkan niatnya itu. Tetapi, tekad Alfonsus sudah bulat. Ia kemudian belajar teologi dan ditahbiskan menjadi imam pada usia 29 tahun.
Kehidupan Alfonsus dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Ia berkhotbah dan menulis banyak buku. Ia membentuk suatu kongregasi rohani yang disebut “Kongregasi Pater-Pater Redemptoris” (CSsR; Redemptoris artinya Sang Penebus). Alfonsus memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. St. Alfonsus menulis enampuluh buah buku. Ini sungguh luar biasa mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang lain amatlah banyak. Ia juga sering menderita sakit. Ia sering sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan sesuatu yang dingin ke dahinya dan terus tetap bekerja.
Meskipun pada dasarnya ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap terburu-buru, Alfonsus berusaha untuk menguasai diri. Ia amat rendah hati, hingga ketika pada tahun 1798 Paus Pius VI ingin mengangkatnya menjadi seorang Uskup, dengan lembut ia mengatakan “tidak”. Ketika para utusan paus telah datang secara pribadi untuk menyampaikan keputusan paus kepadanya, mereka menyapa Alfonsus dengan “Tuan yang Termasyhur”. Alfonsus menjawab, “Tolong, jangan memanggilku seperti itu lagi. Sebutan itu akan membuatku mati.” Paus memberikan pengertian kepada Alfonsus bahwa ia sungguh menghendaki Alfonsus menjadi seorang Uskup.
Alfonsus mengutus banyak pengkhotbah ke seluruh wilayah keuskupannya. Umat perlu diingatkan kembali akan cinta kasih Tuhan dan akan pentingnya iman mereka. Alfonsus berpesan kepada para imam untuk menyampaikan khotbah yang sederhana. “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,” katanya.
Dengan semakin bertambahnya usia, Alfonsus menderita berbagai penyakit. Ia menderita radang sendi yang menyiksanya dan menjadikannya lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan. Namun, Alfonsus memiliki devosi yang amat mendalam kepada Santa Perawan Maria, seperti yang dapat kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul 'Kemuliaan Maria'. Segala penderitaan dan pencobaan itu berakhir dengan damai dan sukacita serta kematian yang kudus.
Alfonsus wafat pada tahun 1787 pada usia sembilanpuluh satu tahun. Paus Gregorius XVI menyatakannya kudus pada tahun 1839. Paus Pius IX memberinya gelar Doktor Gereja pada tahun 1871.
Referensi : Katakombe.org
 Sumber : Katakombe.Org
 Sumber : 

Sunday, July 28, 2019

Awal Mulanya

pada mulanya
aku melihat
aku mendengar
aku merasakan

terhentak hatiku
tersentak jiwaku
kaki melangkah
tangan mengepal